Namanya Nagihin. Karena dia yang nagih, bukan kamu.
Kamu bikin invoice sekali, tekan kirim, habis itu diem aja. Nagihin yang ngirim ke WhatsApp klien dan ngingetin dia sendiri sampai kebayar. Kamu nggak pernah muncul sebagai orang yang nagih — kamu cuma nandain lunas pas duitnya masuk.
Pesannya keluar dari nomor WhatsApp kamu sendiri. Klien nggak pernah dapat chat dari nomor asing.
Harganya belum ditentukan — sekarang saya lagi nyari 15–20 freelancer buat nyoba dan diajak ngobrol.
Sudah punya akun? Masuk di siniChat di bawah ini yang klien kamu terima:
Budi — Klien
terakhir dilihat hari ini 09.44
Dua pesan terkirim. Kamu cuma menekan satu tombol.
Begitu kamu tandaiLunassisa pengingat langsung batal.
Klien bayar di hari kedua? Pengingat H+3 dan H+7 nggak pernah terkirim. Nggak ada cerita nagih orang yang sudah bayar.
Yang bikin lama biasanya bukan kliennya.
Chat yang udah kamu ketik tiga kali, terus dihapus lagi.
Nanyain duit ke orang yang kamu ajak kerja bareng rasanya kayak nagih utang ke teman. Padahal itu hak kamu, dan kerjaannya udah kelar.
Klien jarang nolak, cuma lupa.
Invoice yang dikirim sekali gampang tenggelam di chat, ketimbun promo dan grup keluarga. Yang muncul lagi di waktu yang pas jauh lebih susah dilewatkan.
Yang mahal itu rasa canggungnya.
Nunda nagih karena nggak enak itu keputusan yang harganya hari. Kalau jadwalnya yang jalan, kamu nggak perlu memutuskan apa-apa.
Kerjaan kamu berhenti di langkah dua.
Empat pengingat udah terjadwal sejak invoice terkirim. Kamu nggak perlu ingat, nggak perlu buka app, dan nggak perlu mikirin kalimatnya.
- Hari 0
Invoice terkirim
Rincian item, total, dan tanggal jatuh tempo masuk ke chat klien. Ini satu-satunya tombol yang kamu tekan.
- H-1
Sehari sebelum jatuh tempo
“Sekadar mengingatkan ya, invoice INV-2026-001 jatuh tempo besok.”
- Hari-H
Jatuh tempo hari ini
“Kalau sudah ditransfer, boleh kabari biar saya tandai lunas.”
- H+3
Lewat tiga hari
“Kalau ada kendala, kabari saja — kita cari jalan tengah.”
- H+7
Lewat seminggu
“Mohon dibantu diselesaikan ya. Kalau butuh diskusi, kabari saja.” Pesan otomatis terakhir — tegas, tapi tetap tanpa drama.
Tiga hal yang biasanya baru ketahuan setelah daftar.
Mending ditaruh di depan. Nagihin nggak punya nomor sendiri buat nagihin klien kamu — semua pesan keluar dari nomor WhatsApp kamu.
- Nomornya nomor kamu
- Buka WhatsApp di HP → Perangkat tertaut → scan QR. Persis kayak nyambungin WhatsApp Web. Klien nggak lihat nomor asing, jadi nggak ada yang ke-skip karena dikira spam.
- Kirimnya pelan-pelan, sengaja
- Ada jeda acak antar pesan dan batas kirim harian. Nomor baru mulai dari 10 pesan sehari, naik bertahap. Kelebihan bukan gagal — cuma ditunda ke besok.
- Nggak ada fitur blast
- Satu invoice, satu klien, satu percakapan. Nggak ada tombol “kirim ke semua kontak”, dan nggak akan ada.
Kenapa pengingat terjadwal ngaruh
±27 hari selisihnya. Hampir sebulan uang kamu nganggur di rekening orang lain.
Itu perbandingan umum soal berapa lama tagihan cair kalau follow-up-nya dilakukan otomatis, bukan diingat-ingat. Perlu ditegaskan: itu bukan hasil pengukuran Nagihin. Nagihin baru jalan dan belum punya datanya sendiri. Kalau nanti punya, angkanya saya tulis apa adanya di halaman ini — termasuk kalau jelek.
Terus terang: Nagihin masih baru.
Di halaman ini nggak ada testimoni, logo perusahaan, atau angka “dipakai ribuan freelancer”. Bukan karena lupa dipasang — memang belum ada yang bisa saya kutip. Yang bisa saya tunjukkan cuma satu: pesan yang klien kamu terima, seperti di atas.
Yang sudah jalan: bikin invoice, kirim ke WhatsApp, reminder terjadwal, tandai lunas dan reminder-nya berhenti. Pesannya sudah kebukti nyampe ke HP beneran, bukan cuma sampai batas server.
Yang belum kebukti: kelakuan jangka panjang — reminder yang jatuh berminggu-minggu ke depan, dan sesi yang harus bertahan berhari-hari, baru bisa dinilai setelah dipakai beneran. Kalau kamu ikut sekarang, kamu ikut nyari tahu itu bareng saya.
Pertanyaan wajar
Klien saya harus install sesuatu?
Nggak. Mereka cuma nerima chat WhatsApp biasa dari nomor kamu, dan bisa balas di situ juga seperti biasa.
Nomor WhatsApp saya aman?
Nggak ada yang bisa janji 100% — siapa pun yang bilang begitu, bohong. Yang bisa dilakukan: jeda acak antar pesan, batas kirim per hari, dan nomor baru dimulai pelan (10 pesan di hari pertama, naik bertahap). Nggak ada blast, nggak ada kirim ke nomor yang bukan klien kamu.
HP saya harus nyala terus?
Nggak perlu nyala terus, tapi jangan di-logout dari menu “Perangkat tertaut”. Terus terang: yang sudah kebukti itu sesinya jalan normal setelah scan QR. Kelakuannya setelah HP mati lama atau ganti jaringan belum saya uji berhari-hari — itu justru salah satu yang mau saya lihat bareng pemakai pertama.
Kalau klien sudah bayar tapi saya belum tandai?
Reminder-nya bakal tetap jalan — itu justru yang bikin canggung. Makanya tandai lunas begitu duitnya masuk; sisa reminder langsung dibatalkan di detik itu.
Harganya berapa?
Belum ditentukan. Fase sekarang saya cuma cari orang buat nyoba dan ngobrol soal alurnya. Kalau kamu ikut sekarang, kamu ikut nentuin bentuk akhirnya.
Nggak ada tombol daftar di sini. Sengaja.
Nagihin dibikin satu orang dan lagi dibuka pelan-pelan. Sebelum ada pendaftaran, saya pengen ngobrol dulu sama beberapa freelancer soal gimana kamu nagih sekarang — apa yang paling nyebelin, dan apa yang bakal kamu pakai beneran.
Ada tagihan yang belum kamu tanyain sampai sekarang? Cerita aja. Nggak ada form, nggak ada email yang harus kamu kasih, nggak ada demo 30 menit — chat WhatsApp, dijawab orangnya langsung.